Film, sebuah media yang tidak asing lagi bagi saya. Dari kecil memang keluarga saya sudah seringkali mengenalkan saya akan media ini. MICKEY MOUSE, mungkin menjadi toko film pertama yang saya kenal. Kartun, irasional, namun melegenda.
Dengan film, kita bisa meniru banyak hal. Sebut saja gaya hidup, yang menjadi kebutuhan primer kaum urban selain makanan dan pakaian. Dengan film juga, kita bisa bercermin. Ini menarik. Karena pantulan cermin yang diberikan bisa berakibat banyak. Mungkin suatu yang bisa mengubah hidup kita menjadi positif (karena tersindir atau bahkan tertampar), atau malah mengarah negatif (dengan berbagai pemikiran baru yang dangkal dan mentok)
Dari film, akhir-akhir ini saya banyak melahirkan obrolan seru dengan para sahabat saya. Pecinta film, yang menganggap film adalah media menarik penuh alur cerita yang mampu menghantarkan kita pada suatu pemikiran yang baru, segar, dan menggugah. Diskusi kita berkepanjangan dengan saling mengirimkan info tentang para sutradara, produser, bahkan para aktor dalam negri yang memang termasuk jajaran berkelas di negri ini. Ya, yang menarik adalah kita memang concern terhadap perkembangan perfilman di Indonesia kini. Tentunya bukan film-film 17++ yang mengobrol dunia seks dan komedi murahan. Yang kita maksud adalah film-film sekelas Pintu Terlarang, Arisan, atau yang terbaru adalah Tanda Tanya.
Tanda Tanya, sebuah film baru yang menggigit kesadaran dan paradigma berfikir kita tentang suatu masalah sensitif yang mampu diangkat oleh seorang Hanung Bramantyo untuk disajikan dalam suatu media hiburan. Mulanya memang harus diniati dengan pemikiran yang bersih dan positif. Lalu beranjak pada pergantian scene-scene tempat ibadah yaitu gereja, mesjid, dan vihara. Ketiganya sejajar.
Menarik sekali untuk dihighlight bahwa statement penting disini adalah agama merupakan cara kita untuk meraih suatu tujuan yaitu Tuhan. Perbedaan agama itu menjadi suatu perbedaan kritis yang tidak layak untuk diperdebatkan, namun sangat layak untuk dihormati. Lupakanlah egoisme antar agama. Lanjutkanlah untuk menghargainya. Seperti kasih seorang single-parent yang memilih pindah agama meskipun anak semata wayangnya masih rajin mengaji dan sholat. Atau penghargaan majikan pada para pegawai yang merayakan Idul Fitri. Menarik dan sangat menyentuh rasa.
Jika Indonesia mampu berbuat seperti yang diciptakan oleh Hanung Bramantyo sebagai sutradara, makan Indonesia ini akan menjadi kaya meskipun secara ekonomi terpuruk. Perbedaan beragama, tidak perlu dipermasalahkan. Permasalahan dapat diselesaikan dengan diskusi. Negara kita sudah terlalu lelah dengan konflik. Ada baiknya kelelahan ini disegarkan melalui suatu penyegaran menarik dari suatu media film. Tanda tanya menjawab kelelahan itu. Tanda Tanya menawarkan cinta kasih. (Titik)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar